Tuesday, 7 August 2018

Mewaspadai Wabah Digital Parenting

Wabah Digital Parenting, Waspadalah!

sumber gambar: www.ted.com

Era revolusi industri 4.0 sudah di mulai. Semua negara berbenah agar siap melayaninya. Termasuklah Indonesia yang telah membuat road map dengan nama Making Indonesia 4.0. Di era ini dapat dipastikan teknologi digital serta internet akan berubah menjadi kebutuhan primer. Digitalisasi yang menjadi ciri khas dari revolusi industri sebelumnya ini mulai menjadikan manusia totalitas di dunia virtualnya. Konektivitas menjadi tidak terbatas jarak dan waktu. Akibat semakin vital fungsinya, di zaman ini orang rela menahan lapar dibandingkan harus menunda mengisi paket internet smartphone-nya.

Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, tentu kita membayangkan kondisi yang demikian akan memberikan jalan dari ‘susah’ ke ‘mudah’. Contoh sederhananya dapat dilihat pada pola pembelajaran. Jika dulu harus tatap muka. Kini sudah menjamur bentuk pembelajaran baik formal maupun informal yang berbasis daring. Tinggal klik, sekarang kita bisa melakukan tanya jawab dengan siapapun dan dimanapun. Begitu juga pola komunikasi guru dengan para orang tua. Jika dulu harus bertemu dalam rapat rutin, sekarang sudah bisa diskusi bersama di forum WhatsApp Group (WAG). Tidak perlu harus menunggu jadwal rapat. Banyak contoh  lain yang jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu sudah berubah drastis. Berubah secara acak, tidak lagi terpetakan. Fenomena ini yang kemudian dikenal dengan era disrupsi (distruption era).

Namun sayang, terpangkasnya jarak dalam kehidupan oleh gejala digitalisasi tidak serta merta menyediakan saldo waktu luang lebih banyak. Dalam hal ini adalah waktu luang dalam keluarga. Antara orang tua dengan anaknya. Andai dulu hanya beberapa profesi tertentu yang tidak punya banyak waktu bersama keluarga. Akibat tuntutan jam kerja. Sekarang hampir semua ibu dan semua ayah nyaris kehilangan waktu bersama buah hatinya.

Mengapa demikian? Tanpa mengucapkan kata sepakat namun perbuatan ternyata telah menyetujui wabah ini semua. Ternyata kita lebih kasmaran dengan smartphone, ketimbang bercengkerama bersama mereka. Bahkan kita lebih memilih membalas chat orang yang nun jauh disana, ketimbang menyambut tangisan manja mereka. Padahal mereka adalah masa depan bangsa. Juga masa depan yang akan membawa nama baik keluarga, ayah dan ibunya.

Mungkin kita masih ingat rekam alam bawah sadar seorang anak  yang tertulis melalui puisi  berjudul ‘Ibu & Facebook’ ini?

Ibu,
Facebook,
Hubungannya erat sekali

Setiap hari
Sehabis mandi
Selesai makan
Sehabis apapun

Dalam hatiku,
Aku berpikir
Mau kemana gerangankah ia?

Notebook
Tapi...
Apa yang selalu ia lihat di notebook?

Facebook!
Setiap hari
Tawanya menggema

Sampai kapankah
hubungan erat antara ibu dan facebook?

Mungkin sampai akhir hayatnya
Notebooknya akan dibawanya
Ke Surga...

Laman Sahabat Keluarga Kemendikbud melalui artikelnya Lupakan Gadget Saat Bersama Anak menuliskan bahwa seorang anak akan merasa terabaikan dan sedih ketika orang tua lebih memilih asyik dengan ponsel daripada dirinya. Temuan yang disampaikan oleh psikolog asal Massachusets Institute of Technologi (MIT), Dr. Sherry Turkie semakin mengkonfirmasi kritikan polos melalui puisi di atas adalah contoh nyatanya. Untuk diketahui puisi ini dibuat oleh seorang anak yang  bernama Serafina Ophelia sekitar 9 tahun lalu. Pada waktu itu usianya juga masih sekitar 9 tahun.

Sekarang? Dapat dipastikan akan lahir dua dampak baru. Pertama, anak – anak semakin menjerit akibat khusyuknya orang tua mereka di panggung sosial media. Kedua, mungkin anak – anak itu sudah tidak mampu untuk bersuara. Bukan karena mereka takut. Namun semua hanya karena wajah-wajah polos itu telah menjadi barisan dari  jama’ah pecandu smartphone.  Tiada hari tanpa ngonline.  Dimanapun posisi, wajah selalu tertunduk menyaksikan layar kaca mininya. 


Bisa jadi setiap hari, sehabis mandi, selesai makan dan sehabis apapun. Mirip seperti aktifitas orang tuanya.  

Tidak sedikit juga fakta memperlihatkan bagaimana orang tua rela mensubtitusikan tangis balitanya dengan sebuah gadget.  Alasannya ketika gadget diberikan, balita itu akan diam. Maka jangan heran, ketika laporan e-marketer menyatakan pengguna aktif smartphone di Indonesia pada tahun 2018 menjadi 100 juta orang. Pertumbuhannya sangat signifikan jika dibandingkan pada tahun 2015 yang masih 55 juta orang. Bisa jadi hipotesisnya menyatakan pertumbuhan itu dikarenakan sang balita, eh bisa jadi sang batita alias bayi di bawah tiga tahun juga sudah menjadikan smartphone sebagai kebutuhan pokok. Kebutuhan yang sudah disetarakan dengan ASI atau susu formula.


Susu Vs Smartphone 

 sumber gambar: www.rte.ie

Pada kondisi inilah, tanpa disadari pola pengasuhan itu sudah bertransformasi menjadi aktifitas digital parenting. Artinya adalah kita hanya puas dengan yang serba digital, serba virtual dan serba terkoneksi. Bahkan untuk memuaskan diri, yang diasuh bukan lagi anak tetapi adalah aktifitas dunia digitalnya itu. Sibuk mengasuh facebook, berjibaku memantau instagram sampai tidak alpa memastikan sang hero di game online-nya sehat selalu.

Benarlah publikasi dari perusahaan media asal Inggris, We Are Social pada Januari 2018 lalu menempatkan masyarakat Indonesia sebagai negara ketiga yang menghabiskan aktifitasnya di sosial media. Rata-rata waktunya adalah 3 jam 23 menit. Mirisnya, terkadang saat bercengkrama bersama anak, satu jam sudah terasa lelah. Andai sering bicara via telpon, hitungannyapun hanya dalam tempo menit.  

Padahal pola pengasuhan itu tidak bisa ditransformasi sedikitpun. Lantunan kasih sayang tidak bisa hanya ditransfer melalui video call. Nasehat tidak hanya usai dalam personal chat yang beruntun. Bahkan inspirasi tidak akan bisa menyentuh rasa ketika hanya diberikan melalui broadcast message insipiratif.

Hal ini persis seperti perkembangan teknologi di bidang pangan misalnya. Boleh saja semua hasil olahan dan kemasan bertansformasi. Namun nasi ya tetap nasi. Tidak mungkin tergantikan dengan e-rice. Begitu juga ketika kita ingin makan ikan. Apakah mau diganti dengan ikan virtual? Jawabannya tentu tidak walau gratis sekalipun.
Jadi sebelum terperangkap lebih dalam. Sebelum jauh melangkah. Sebelum anak semakin kehilangan kehadiran orang tuanya. Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus perhatian kita bersama. Diantaranya, pertama dengan tidak menjadikan keberadaan orang tua tergantikan dengan perangkat apapun. Di tengah semakin canggihnya teknologi dan arus informasi, orang tua tetaplah harus selalu hadir. Fisik dan jiwanya harus memberi jejak di sanubari anak. 


Sekali lagi, fisik dan jiwanya. Jika tidak, itu sama artinya para orang tua telah melanggar hak anak. Diskriminasi terhadap hak anaknya sendiri.
Kedua, Bukan berarti harus gaptek alias gagap teknologi, orang tua justru harus update dengan perkembangan teknologi itu. Jangan sampai orang tua hanya menjadi bulan-bulanan anaknya. Akhirnya kemudian sang anak bebas menerobos konten negatif dan berlamaan dengan games yang berbahaya baginya. Tanpa terdeteksi sedikitpun oleh orang tuanya. Termasuk juga di dunia sosial media, tahukah kalau mereka telah memiliki banyak akunnya? Walaupun usianya belum pantas. Jikapun sudah pantas, apakah sudah mengenali siapa saja teman-teman mereka dan aktifitasnya disana? Ingat, bukan tidak sedikit kasus anak yang terjebak oleh teman barunya di sosial media. Bahkan jebakan itu sampai berujung maut.

Ketiga, Indonesia saat ini tengah mengarah pada kurikulum pendidikan yang lebih menekankan pada STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts dan Mathematics). Ini berarti kecakapan dalam penguasan teknologi akan menjadi salah satu penentu masa depan generasi penerus itu. Maka sejatinya mereka tetaplah harus diberikan akses, namun jangan sampai bablas. Mereka tetap harus merasakan atmosfir milenialnya, namun tetap diberikan rambu. Apalagi sekarang sudah ada legalitas mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pastinya, sepakat atau tidak mereka akan tetap tumbuh dan berkembang di zaman now ini. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita harus memahami betul berapa dosis yang tepat bagi mereka ketika harus besentuhan langsung dengan perkembangan alam teknologi dan informasi ini. Kita yakin, andai porsinya tepat justru akan menjadi stimulus untuk semakin kreatif. Bahkan bisa membuahkan prestasi yang prestesius. 

Nah, sekarang pastikan jangan sampai malah orang tuanya yang overdosis. Selanjutnya mari segera mendeteksi pola pengasuhan. Baik itu saat bersama mereka maupun saat kita terpisah oleh aktifitas keseharian. Mari mewaspadai wabah digital parenting yang hampir berubah menjadi mazhab dari gaya hidup saat ini. Jangan sampai kita menjadi mangsanya. 

Pastinya, bagaimanapun peran dan kehadiran keluarga dengan ayah dan ibu di dalamnya tetap tidak bisa dinomorduakan. Tetap tidak tergantikan. Ianya tetap pertama dan utama. 

No comments:

Post a Comment