Wednesday, 11 September 2019

Menjadi 'Ayah Pelidik'



(Menguatkan Peranan Keluarga dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Digital di Era Revolusi Industri 4.0)


Era Revolusi Industri 4.0 telah mengikat kehidupan dengan teknologi. Perkembangan teknologi kian waktu tanpa terasa telah membawa perubahan yang signifikan. Selain mampu menghapus hambatan dari batasan geografis. Teknologi juga telah membawa perubahan pola hidup manusia diantaranya mengenai aktifitas pengasuhan (parenting).

Bukankah kini smartphone lebih mampu meredakan tangis sang anak ketimbang bujuk rayu lain dari orang tuanya? Bukankah kini anak lebih asik bermain game online dari pada  bermain bersama dengan orang tuanya? Balita sekalipun, kini sudah akrab dengan berbagai tontonan dari chanel YouTube. Sebagai orang tua, pembaca pernah merasakannya bukan?
 
Bahkan karena semakin tingginya traffic kesibukan anggota keluarga di dunia maya, banyak keluarga mengalami sindrom ‘JTD-DTJ’. Jauh Terasa Dekat, Dekat Terasa Jauh. Ini semua tentu disebabkan karena meskipun keluarga berkumpul bersama, tetapi mereka tetap saja sibuk dengan gadget masing-masing. Sibuk bercengkerama dan bersapa di ruang sosial media (sosmed) atau instant messeger. Fenomena yang sekarang sudah menjadi  hal  biasa untuk disaksikan. Bisa jadi, kita sendiri juga bagian dari pengidap sindrom itu.

Hampir tidak ada perbedaan aktifitas penggunaan internet antara masyarakat kota dan desa. Survei Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII)  tahun 2018 mengungkapkan justru pengguna internet di desa lebih banyak yaitu 74,1%. Sedangkan penduduk kota hanya 61,6%. Sementara itu, potensi ini akan terus bertambah. Dilihat dari alasan responden yang tidak menggunakan internet, ternyata terdapat 12,6 persennya karena mereka tidak tahu menggunakan teknologi tersebut. Kelak, perlahan tapi pasti mereka akan menjadi tahu.

Padahal dunia maya itu bak hutan belantara. Banyak pemandangan yang menyegarkan, tapi banyak juga yang siap menerkam. Tidak ada jaminan keamanan. Kominfo (2018) dalam laporannya menyatakan bahwa  mayoritas atau 61,56% pengguna internet menyadari lebih banyak terakses konten negatif. Bahkan sebanyak 80,13 % menyatakan semua informasi yang beredar awalnya langsung dipercaya. Hal ini seirama dengan temuan Centre for International Governance Innovation (CIGI) tiga tahun lalu yang menemukan 65% pengguna internet di Indonesia  selalu percaya begitu saja dengan informasi yang diterima. Minus cek dan ricek.

Faktanya lihat saja contoh kasus yang menghiasi pemberitaan ataupun berbagai postingan di sosmed. Banyak yang terperangkap aksi kejahatan di dunia siber (cybercrime).  Mulai dari kasus pornografi, isu sara, penyebaran berita palsu (hoaks) sampai banyak kasus perselingkuhanpun hadir dari sini. Selain tidak memandang usia, cybercrime juga tidak memandang profesi dan tingkatan pendidikan. Orang pintar dengan gelar akademik tertinggi sekalipun kadang sering tertipu. Salah klik, salah share dan sebagainya.

Jika orang dewasa dan orang tua saja bisa masuk perangkap baik dengan  kondisi sadar ataupun tidak. Bagaimana dengan anak-anak yang memiliki daya imitasi tinggi namun daya filter yang rendah itu? Andai mereka dibiarkan begitu saja berkelana di dunia maya, dipastikan akan mudah menjadi mangsa para pelaku kejahatan.

Ilustrasi sindrom ‘JTD-DTJ’ (sumber foto: dreamstime.com)
Masih ingatkah kasus pelecehan seksual melalui dunia maya atau dikenal dengan istilah grooming yang terungkap akhir Juli lalu? Setidaknya ada dua catatan yang miris dalam kasus ini. Pertama, korbannya anak di bawah umur dan pelaku ternyata telah mengkoleksi ribuan foto serta video anak tanpa busana. 

Kedua, pelaku memanfaatkan dua momentum yakni terkait dengan intensitas aktifitas  anak yang tinggi di dunia maya. Baik dalam menggunakan sosmed atau game online. Momentum lainnya adalah pelaku memanfaatkan kelemahan orang tua dalam mengawasi dan mengasuh anaknya.

Dua momentum yang dimanfaatkan oleh pelaku grooming ini sebenarnya bisa dicegah dengan satu jalan yaitu menguatkan peran orang tua. Terutama peran seorang ayah sebagai kepala rumah tangga. Namanya kepala alias ketua, berarti mempunyai tanggungjawab lebih. Namanya kepala alias pemimpin berarti mempunyai peran yang kuat dalam mengarahkan anggota keluarganya.

Publikasi Hootsuite & We Are Social tahun ini mengungkapkan terdapat 150 juta pengguna internet di Indonesia (naik 13% dibanding tahun 2018). Angka yang sama  juga untuk pengguna sosmed aktif, yakni 150 juta pengguna (naik 15% dibanding tahun 2018). Maka tidak heran jika akhirnya kedua lembaga yang masing-masing bermarkas di Kanada dan Inggris ini memposisikan Indonesia sebagai negara pengguna internet dengan peringkat ke-5 dunia. Fantastisnya, dalam laporan tersebut ditemukan kebiasaan warga +62 ini menghabiskan lebih dari sepertiga waktu untuk mengakses internet. Tepatnya selama 8 jam 36 menit.

Sementara itu, Kominfo (2018) dalam laporan hasil surveinya juga menemukan setidaknya ada 31% rumah tangga yang berlangganan internet. Sementara itu tidak lebih dari 25 % alias seperempatnya saja yang menerapkan aturan dalam penggunaan perangkat Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK).

Meskipun belum jelas aturan seperti apa yang diterapkan tersebut. Namun bagaimanapun, kita tidak bisa berlepas diri dari kondisi yang ada. Kita tetap akan berhadapan dengan dunia anak yang telah tercebur di dunia digital ini. Bahkan Kemen PPPA dalam publikasinya berjudul ‘Profile Anak Indonesia tahun 2018’ menemukan mayoritas anak usia dini telah mengakses internet. Sebanyak 91% anak usia tersebut mengkases untuk hiburan semata.


Fantastis! Jumlah Pengguna Internet dan Sosmed Aktif di Indonesia
Saatnya Menjadi Ayah Pelidik
Lari dari kenyataan terhadap data yang tersajikan di atas merupakan sebuah kemustahilan. Inilah fakta yang harus dihadapi. Bahkan ke depan arus perkembangan teknologi akan terus bergerak cepat. Anak-anak itu akan terjamah sempurna dengan kemajuan teknologi. Lihat saja pengguna internet berdasarkan umur. Menurut APJII (2019) bahwa  anak usia 5-9 tahun  yang telah menjadi pengguna internet sebesar 25,2 %. Bahkan kakak-kakak kelasnya, yaitu umur 15-19 tahun hampir semuanya telah menjadi user aktif, tepatnya sebesar 91 %. Nyaris sempurna.

Maka dengan kondisi yang demikian, sebagai kepala keluarga, seorang ayah haruslah segera berbenah untuk kembali memposisikan diri dengan tepat. Tepat dalam menjalani kehidupan yang serba tekologi ini. Tepat dalam mengambil peran. Serta tepat dalam bertindak. Salah satu jalan utamanya adalah dengan menjadi seorang Pelidik (Pegiat Literasi Digital Keluarga).

Jika di negara ini kita mengenal profesi yang bernama Penyidik. Dimana untuk menjadi Penyidik harus orang tertentu yang telah diatur dalam Undang-Undang. Maka, meski tidak diatur dalam sebuah peraturan, sejatinya setiap ayah sudah memiliki kewajiban untuk menjadi Pelidik dengan segala wewenangnya. Dalam konteks ini tentunya wewenang yang terkait dengan aktifitas digital anak dan keluarganya.

Untuk menggunakan wewenang tersebut, seorang ayah harus terlebih dahulu memiliki dua syarat minimal. Pertama,memiliki pengetahuan yang utuh tentang literasi pada umumnya serta literasi digital itu sendiri. Setidaknya, memiliki semangat untuk terus belajar memahami apa dan mengapa tentang dunia digital. Tujuannya agar tidak lost contact dengan aktifitas anak-anak yang selalu bergiat dengan dunia digitalnya.

Douglas A.J Belshaw (2011) menyatakan terdapat tiga jenjang pengembangan pada literasi digital, yaitu:
1. Kompetensi Digital (mencakup keterampilan, konsep, pendekatan, dan perilaku)
2. Penggunaan Digital (berkaitan dengan pengaplikasian dari kompetensi digital)
3. Transformasi Digital (mencakup inovasi dan kreasi di dunia digital) 

Selain itu, penulis tesis yang berjudul What is ‘Digital Literacy‘? ini juga menjelaskan bahwa terdapat 8 elemen penting dalam mengembangkan literasi digital. Kedelapan elemen penting tersebut adalah kultural, kognitif, konstruktif, komunikatif, kepercayaan diri, kreatif, kritis, dan bertanggungjawab secara sosial. 

Kedua, syaratnya adalah bisa memberikan ketauladanan. Ketauladanannya adalah dengan melakukan contoh praktik baik kepada anggota keluarga. Praktik baik tentang bagaimana beraktifitas di dunia maya dengan aman dan tepat.

Siberkreasi Kominfo dalam survei yang dilakukannya sepanjang  September - November 2018 lalu menemukan bahwa literasi digital yang didapatkan oleh anak-anak kita lebih merupakan hasil otodidaknya dibandingkan input dari keluarga. Perberdaannya cukup mencolok, rata-rata hasil otodidak 66,55%, sedangkan pengetahuan yang didapatkan dari keluarga hanya 16,95%. 


Anak lebih banyak dibiarkan belajar sendiri saat berinteraksi di dunia digital (sumber foto: be-bound.com)

Pemerintah sendiri, melalui Kemendikbud telah mengeluarkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang mempunyai turunan gerakan diantaranya Gerakan Literasi Keluarga (GLK). Sementara itu, secara spesifiknya ada enam literasi yang menjadi prioritas. Satu diantaranya adalah literasi digital.


UNESCO (2018) dalam papernya yang berjudul “A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills for Indicator 4.4.2”  mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, berkomunikasi, mengevaluasi dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital.

Sebagai Ayah Pelidik perannya secara khusus bisa masuk dalam kategori penguatan literasi digital melalui GLK. Maka, jika berkaca dari definisi salah satu organisasi PBB itu, setidaknya ada tujuh indikator sikap dan pemahaman yang harus dimiliki seorang Ayah Pelidik agar aktifitas digitalnya aman dan tepat. Mulai dari mengakses sampai pada kegiatan menciptakan informasi yang bermanfaat. 

Hari ini, tanpa sadar banyak orang yang sudah merasa pintar menggunakan teknologi hanya ketika sudah bisa mengaksesnya saja. Padahal kemampuan mengakses baru tahap pertama. Tidak heran jika akhirnya kita masih menyaksikan banyak diantaranya yang harus berurusan dengan pihak kepolisian. Kesalahannya memang kelihatan sederhana. Seperti hanya salah mengupdate status atau mempublikasikan video/foto. Tapi dampaknya sangat bahaya. Diantaranya muncul gejolak sosial yang berkesinambungan.

Pantaslah jika dalam salah satu Konferensi Nasional pada Februari 2019 lalu, Polri mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2018 sebanyak 122 orang telah ditangkap. Mereka ini ditangkap tidak lain karena terkait kasus ujaran kebencian, penyebaran hoaks, nama baik dan penistaan agama di sosmed. Artinya, rata-rata setiap tiga hari terjadi penangkapan satu orang pelaku. Sekali lagi, jika dilihat profil pelakunya kita akan berkesimpulan mereka bukanlah orang bodoh.

Ayah Pelidik: Belajar Cepat, Bertindak Tepat
Selanjutnya, dengan tetap sambil mengupgrade diri. Ayah Pelidik harus segera mengeksekusi wewenangnya sebagai bentuk tanggungjawabnya. Pemerintah melalui ‘Peta Jalan Perlindungan Anak Indonesia di Internet’ telah memaparkan beberapa resiko yang paling sering dihadapi anak ketika berinternet. Diantara resiko tersebut adalah kecanduan,terpapar konten negatif, cyberbully, penistaan, intimidasi dan eksklusi sosial, pelanggaran privasi, dan predator atau pedofil online.

Oleh karena itu untuk mencegah berbagai resiko negatif yang muncul sekaligus tanpa harus menghilangkan potensi positif dari kemajuan teknologi. Maka setidaknya ada lima wewenang yang bisa dilakukan sebagai seorang Ayah Pelidik. 

Pertama, memiliki wewenang memberikan atau tidak memberikan anaknya untuk melakukan aktifitas di dunia maya. Jangan sampai dengan alibi kemajuan zaman lantas kita biarkan mereka bablas beraktifitas di sana. Beberapa profil di sosmed masih sering kita temukan penggunanya adalah anak-anak di bawah umur. Bahkan diantara akun mereka dibuat oleh orang tuanya sendiri. Disinilah sensitifitas sebagai orang tua tetap harus dijaga. Selanjutnya batasan yang diberikan bukan hanya terkait waktu akses tetapi juga mengenai konten apa yang boleh atau tidak.

Kedua, memiliki wewenang memberikan batasan waktu beraktifitas anak di dunia maya. Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rosary & Amanda Soebadi (2014) pernah menuliskan di web asosiasi profesinya ini bahwa para ahli merekomendasikan sebaiknya screen time tidak lebih dari 2 jam perhari untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Bagaimana dengan anak-anak yang di bawah dua tahun?

Pastinya dalam artikel tersebut, kedua dokter anak ini juga memberikan pedoman penggunaan internet sesuai usia anak. Mulai dari kategori sampai usia 10 tahun, 11 – 14 tahun dan 15 -18 tahun. Namun di setiap rentang usia tersebut tetap direkomendasikan bahwa orang tua harus terlibat walau dengan porsi dan pola yang berbeda.

Ketiga, memiliki wewenang memeriksa aktifitas anaknya di dunia maya. Sebagai orang tua minimal harus memiliki pemahaman dengan level yang setara anaknya. Ketika orang tuanya gaptek, maka celah anaknya untuk mengelabui itu semakin besar. Bagaimana kita bisa memeriksa jejak aktifitasnya, jika sebagai orang tua kita masih kurang familiar dengan apa yang diaksesnya. Bahkan kadang mendengarkan aplikasi-aplikasi yang digunakannya saja belum pernah.

Keempat, memiliki wewenang mendampingi aktifitas anak di dunia maya. Sebagaimana rekomendasi dari IDAI tadi, maka orang tua tetap harus mendampingi anaknya ketika beraktifitas dengan menggunakan internet. Pendampingan itu bisa langsung, terutama misalnya ketika mereka merupakan ‘pendatang baru’ di jagat sosmed. Ajarkan mereka tetang privasi dan fungsi dari setiap menu pada aplikasi yang digunakan.

Kelima, memiliki wewenang mengeksekusi keputusan jika melihat anggota keluarganya sudah terindikasi melakukan atau korban kegiatan yang mencurigakan di dunia maya. Bak melihat rumah yang terbakar, seorang ayah tentu harus segera mengeksekusi untuk menyelamatkan anggota keluarganya. Apapun cara dilakukan. Begitu juga saat terlihat indikasi negatif pada aktifitas anak-anak di sini. Jurus ‘raja tega’ harus segera dikedepankan sebelum mereka menjadi pecandu akut. Sebelum keluarga menjadi korban.

Kelima hal ini tidak lain sebagai bagian dari penguatan lahirnya indikator-indikator kegiatan literasi keluarga sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Kemendikbud. Salah satu indikator tersebut adalah meningkatnya frekuensi akses anggota keluarga terhadap penggunaan internet secara bijak (Kemendikbud, 2017).


Kelima wewenang ini juga harus dilakukan dengan tepat. Sekali lagi, tentunya ketepatan itu hanya bisa dilakukan ketika seorang ayah mampu memenuhi dua syarat minimal tadi. 

Menjadi Ayah Pelidik, Pola Asuh Semakin Kuat, 'Generasi Gadget' Semakin Sehat

Fatherless Country NO! Ayah Pelidik YES!
Andaikan kita masuk kategori yang menghabiskan waktu 8 jam perhari hanya untuk berselacar dengan internet tadi. Berarti kita masih punya waktu  sisa sebanyak 16 jam. Porsi waktu sisa itu masih lebih banyak.  Sehingga waktu ini potensial sekali digunakan untuk bercengkerama bersama keluarga. Bercengkerama di dunia nyata. Dunia yang bebas dari koneksi internet dan sosial media.

Beberapa kutipan dari narasi ‘Sungguh Tega’ yang dipublikasi portal kissmemom.com ini sepertinya cukup menjelaskan kepada kita bahwa ketika teknologi terus berkembang, kita memang tetap dituntut untuk mengikutinya. Namun sebagai pengikut yang bijak tentu tidak harus sampai melupakan fitrahnya sebagai manusia. Makhluk sosial yang mempunyai rasa dan cinta.  

Sungguh TEGA! 
Ketika kita sering mengumbar selebrasi kebahagiaan bersama anak di sosial media. Namun, kenyataanya keseharian anak itu selalu merasakan ‘kehilangan’ akan kehadiran kita sebagai orang tuanya, bahkan saat berkumpul bersama di ruang keluarga sekalipun.

Sungguh TEGA!
Ketika kita sibuk mencari update informasi terkini, tak melewatkan satupun peristiwa yang tersiar di media massa, tak terlewatkan satupun kisah viral yang tersebar di sosial media. Namun, kita selalu lupa dengan update mengenai perkembangan anak hari ini. Adakah yang terluka? Adakah yang tersakiti?

Sungguh TEGA!
Kadang kita lebih banyak ketiduran dengan hape di tangan. Bukan ketiduran saat mengusap atau memegang tangan lembutnya.

Sungguh TEGA!
Saat bangun tidurpun, kita bergegas mencari hape, kemudian klik sana - sini. Bukan bergegas untuk mengusap dan menciumnya dengan manja seraya berdo'a untuk kesolehannya. 



Akhirnya, menjadi Ayah Pelidik bukan hanya sekedar untuk meningkatkan pemahaman literasi digital di lingkungan keluarga. Menjadi Ayah Pelidik sejatinya juga bisa menjaga aktifitas digital yang sehat dengan tetap menjaga kesehatan hubungan antar sesama anggota keluarga.

Dengan demikian, melalui Ayah Pelidik, Indonesia tidak hanya melahirkan generasi yang sehat dalam berinternet serta kuat dalam penguasaan teknologi, tetapi juga tetap sehat dalam pola pengasuhan. Jika sudah sampai di titik ini, dengan sendirinya stigma negara Indonesia sebagai fatherless country itu terpatahkan sempurna. 

Menjadi Ayah Pelidik, pola asuh semakin kuat, 'generasi gadget' semakin sehat. 

I'm Ayah Pelidik, Kamu? Mari bergerak bersama! 

#SahabatKeluarga  #LiterasiKeluarga

4 comments:

  1. Ilmu yang bermanfaat untuk para Ayah dan Calon Ayah.
    Nyatanya memang demikian, tidak sedikit orangtua yang lebih memerhatikan perkembangan karirnya dibandingkan perkembangan sang buah hati.

    ReplyDelete
  2. Menjadi ayah pelidik adalah langkah nyata terciptanya SDM unggul dikemudian hari, pendidikan literasi sejak dini oleh sang ayah kepada buah hatinya kini bisa lebih menarik ketika litarsi tidak hanya sebuah kertas, peranan ayah pelidik juga bisa merubah stigma negatif masyarakat terhadap anak yang suka main gadget, nyatanya memang kemajuan teknologi tidak dapat kita bendung, namun dengan peran ayah pelidik ini kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan lebih baik lagi untuk sang buah hati. Harapannya kelak dimasa yang akan datang Indonesia akan mempunyai generasi yang melek digital dan melek literasi. Kelak suatu masa nanti ketika saya menjadi seorang ayah. Tanpa ragu saya akan menjadi ayah pelidik. Im Ayah Pelidik !!!.

    ReplyDelete
  3. emang ad orang tua seperti ini? yg adnya malah sibuk sendiri. Tpi sy izin share yak!

    ReplyDelete