Wednesday, 8 May 2013

Restorasi Pendidikan Nasional

Oleh: SYAFBRANI

::::::: Artikel dengan judul tersebut  pernah terbit  tanggal 7 Mei  2013 di media cetak Haluan Kepri

Seperti peringatan hari besar pada umumnya, perhelatan perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu mengangkat tema yang variatif. Secara kasat mata, dinamika perkembangan dunia pendidikan memang selalu berubah. Walau secara normatif, kita tetap dihadapkan dengan satu tujuan mulia. Tujuan yang menjadikan pendidikan sebagai ladang memanusiakan manusia. Namun tidak salah kalau kemudian momentum Hardiknas harus menyesuaikan kondisi kekiniannya. Oleh karena itu, tidak salah jugalah kalau pemerintah merumuskan tema peringatan Hardiknas tahun ini dengan kalimat “Meningkatkan kualitas dan akses berkeadilan”.  Tema baru untuk tahun ini.

Benar, pendidikan Indonesia masih belum memberikan akses yang merata. Baik secara fisik berupa bangunan dan sarana/prasarana penunjang lainnya. Terlebih transfer ilmu pengetahuan dan ketauladanan sikap yang selalu kontradiktif. Beda yang diajar, beda yang diperbuat. Beda yang diserukan, beda yang dinilaikan. Bahkan kadang memberi ruang menuju jalan yang menyesatkan. Nah, akses keadilan pada poin-poin terakhir inilah yang sering terlupakan –jika tidak ingin dikatakan diabaikan. Padahal kerja pendidikan adalah sebuah tanggung jawab yang harus disadari dan dilaksanakan secara kolektif.



Secara nurani, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Kemdikbud) dalam sambutan pada peringatan Hardiknas tahun ini mengakui bahwa penyakit sosial yang melanda bangsa ini hanya dapat diobati dengan pendidikan. Penyakit akut nan berkepanjangan itu setidaknya menurut Mendikbud ada tiga hal yakni kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban. Perlu vaksin sosial. Sebuah istilah bagi pendidikan versi pemimpin yang saat ini lagi disorot akibat kisruh via UNnya. 

Akar yang Tak Menghujam

Berbagai target statistik telah menjadi bagian dari usaha pemerintah untuk dianggap sukses membangun pendidikan Indoensia. Begitu juga dengan akumulai nominal rupiah yang diharapkan agar masyarakat mampu berkesimpulan akan kebaikan program yang terjadi di jalur pendidikan. Jika dikaitkan dengan usaha untuk membangkitkan semangat, target seperti tersebut sangatlah diperlukan. Namun bukan berarti sebagi hal utama.

Karena kerja pendidikan bukan sekedar kerja fisik. Lebih dari yang terlihat, kerja pendidikan adalah ritme-ritme jiwa yang berkolaborasi utuh dengan logika dan etika. Bahasa sederhananya adalah pengabdian tanpa beban. Adakah jiwa kemulian tersebut masih bersemi dalam aktifitas pendidikan di Indonesia?

Perlahan mari kita telusuri dari aktifitas sekolah. Sekolah yang seharusnya merupakan wahana pendidikan formal kini sudah semakin sulit untuk didekatkan dengan esensi pendidikan itu sendiri. Mulai dari aktifitas pembelajaran misalnya. Sampai pada hubungan yang terbangun antara warga sekolah. Baik antar siswa dengan guru, siswa dengan sesama siswa, maupun guru bersama rekan seprofesinya. Akibatnya sekolah semakin kekurangan daya tarik.

Setiap pagi siswa sudah kehilangan semangat untuk berangkat ke sekolah. Kedatangannya lebih karena faktor keterpaksaan alias ‘apa boleh buat.’ Tugas yang diberikan dianggap sebagai beban sehingga banyak yang tidak antusias untuk menyelesaikan. Meniru jawaban teman sudah menjadi kebiasaan, karena temanpun juga mendapatkan dari teman yang lainya. Saling tiru. Ketika guru berhalangan, wajah girang otomatis menghilangkan kelemasan. Rasa suka karena jam kosong, banyak waktu untuk dibuang. Apalagi ketika hari libur datang, sumringah keceriaan tergurat total. Namun ketika pergerakan waktu mengembalikan untuk kembali ke atifitas sekolah lagi, keceriaanpun sirna.

Dan jika ingin jujur mencerna, lingkaran rutinitas seperti itu bukan hanya mendera sang siswa. Para guru juga demikian. Bukan sedikit guru merasa malas untuk berjumpa hari senin setelah puas melakukan rekreasi di hari minggunya. Jika ingin dideskripsikan, apa yang dirasakan guru mirip sama persis yang dirasakan siswa. Sekolah sudah tidak lagi menjadi pusat kerinduan. Guru dan siswa sudah tidak nyaman ketika melakukan aktifitas di sekolah. Entah itu diterjemahkan dengan kata bosan, lelah, atau apalah.

Tanpa berniat untuk tidak memandang para guru atau siswa yang masih bersemangat dan masih menjadikan sekolah sebagai bagian dari semangatnya. Siswa yang selalu merindukan suasana keakraban dengan teman dan gurunya di sekolah. Guru yang selalu menanti pagi untuk segera hadir bertatap muka dengan peserta didiknya.  Kita yakin, mereka yang seperti ini masih ada. Meski kondisinya minoritas dan akhirnya kadang ikut terjebak dengan ketidaknyamanan. Akhirnya ikut-ikutan dengan kenyataan kebanyakan.

Sementara itu,  di lingkungan keluarga juga sudah tidak jauh berbeda. Orang tua nyaris menyerahkan kekuasaan penuh pendidikan anaknya kepada dunia di luar keluarga. Alasannya klasik, yakni sibuk. Mujur jika kekuasaan penuh tersebut disambut oleh tangan pendidik yang berdedikasi. Syukur jika anaknya diterima dengan baik oleh kehidupan masyarakat yang mengedepankan sisi humanisme. Jika tidak?

Restorasi

Rugi yang berlipat akan didapat kalau rutinitas pendidikan baik dalam skala formal atau di lingkungan keluarga/masyarakat hanya diapresiasikan dengan sebatas lembar ijazah atau sertifikat. Sasaran akan semakin melesat jauh dari harapan kalau persoalan pendidikan hanya dibahas pada persoalan raihan angka semata. Kerja-kerja pendidikan akan semakin tersia ketika faktor diskusi hanya mengangkat tema sebatas kesejahteraan belaka.

Maka, peringatan Hardiknas kali ini sudah sepantasnya dijadikan momentum untuk melakukan pengembalian hakikat pendidikan. Hakikat yang sudah dijabarkan oleh pendiri bangsa. Selain itu, dijadikan pula sebagai momentum untuk kembali mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan. Tujuan mulia yang sudah tertata dengan rapi melalui rentetan kata yang tercantum dalam payung hukum pendidikan. Kepedulian bersama menjadi kunci untuk mengaplikasikan amanat ini. Andai saling abai, hasil pendidikan bangsa tidak lebih hanya menghasilkan manusia yang bersikap di luar nuansa kemanusiaannya. Bahkan bukan tidak mungkin, saling memangsa satu sama lain. Seram bukan?

No comments:

Post a Comment