Monday, 27 August 2018

Guru, Merdeka atau Sejahtera?




Catatan sejarah telah membuktikan bahwa skenario hadirnya kemerdekaan Bangsa Indonesia yang terproklamir pada 17 Agustus itu tidak lepas dari dominasi kaum terdidik. Mereka adalah kader terbaik bangsa di zamannya. Dengan pendidikan yang dimiliki akhirnya menimbulkan tekad bahwa tiada pilihan lain, bangsa ini harus merdeka. Padahal kesempatan sangat besar bagi mereka menggunakan strata pendidikan yang telah dicapai untuk mengejar kesejahteraan pribadi. Tapi dengan semangat kepahlawanan, mereka ingin kesejahteraan itu juga harus dinikmati oleh seluruh rakyat yang berabad-abad telah dijajah. Hanya satu jalan, harus merdeka.

Dari refleksi sejarah ini menunjukkan sebuah koneksi yang betapa kuatnya peran pendidikan dengan kemerdekaan.  Tidak salah kalau dulunya Ki Hajar Dewantara menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju manusia merdeka. Namun sayangnya, tema ‘merdeka’ dalam peringatan hari pendidikan ataupun hari pendidik (guru)  jarang terungkapkan.


Sebagai pendidik, sudah saatnya untuk mampu berdiri sebagai pelopor dalam meneruskan apa yang telah menjadi cita-cita Bapak Pendidikan Nasional ini. Kenyataan berbicara lain, perubahan orientasi para guru yang menjadi pendidik di setiap satuan pendidikan dengan jenjangnya masing-masing bukan menjadi berita tabu lagi. Kita -karena mungkin termasuk penulis yang juga berprofesi sebagai pendidik- kadang sudah merasa puas hanya dengan merasa memiliki ilmu yang tinggi. 

Apalagi dengan tambahan gaji yang sudah cukup untuk tidak sekedar memenuhi kebutuhan primer dan skunder. Namun lupa, bahwa dengan ilmu dan kesejahteraan yang dimiliki justru hanya menjadikan diri seperti para robot yang siap diperlakukan tergantung sang pemegang remote control.

Nah, bagi yang sudah merasa ketidaknyamanan dalam menjalankan profesinya, akibat adanya benturan antara nurani dengan realita yang harus dihadapi, kadang hanya memilih diam. Berbuat dengan rasa keterpaksaan. Karena ketika niat hati ingin berbicara, rasa khawatir akan terganggunya kesejahteraan yang sudah diraih mendera. Padahal sangat tidak mungkin, tujuan pendidikan untuk menuju manusia merdeka itu tercapai, ketika  ujung tombak dari pendidikan itu sendiri hidup dalam keterkekangan.

Jebakan Birokrasi?
Masuknya para guru dalam sistem birokrasi, semakin memperkuat posisi guru untuk dipaksakan taat. Apalagi angin otonomi daerah yang menjadikan pemimpin daerah dengan para jajarannya menjadi penguasa mutlak. Menjadi bukan sebuah berita baru jika status dan penempatan guru bisa diobok-obok sesuai keingian sang penguasa. Oleh karena itu, permasalahan distribusi guru, sistem rekrutmen yang tumpang tindih, serta pengangkatan yang berdasarkan ‘kekerabatan’ tidak pernah selesai menghantui tubuh pendidikan bangsa.  Parameter kompetensi akhirnya ditempatkan entah ke nomor berapa. Akhirnya masalah kompetensi menjadi penambah derita yang tak pernah usai di tubuh pendidikan.

Di tengah kondisi seperti ini, hanya instruksilah yang siap didengar sang guru. Tanpa perlu banyak tanya, tanpa perlu banyak kata. Ikuti saja. Namun secercah harapan itu masih ada ketika panggilan nurani masih mendominasi guru dalam melakukan aktifitas mendidiknya. Sebuah aktifitas yang memberikan ruang interaksi antara dirinya dengan para generasi harapan bangsa.

Tapi apakan daya kalau kelas-kelas yang seharusnya menjadi harmonisasi fisik dan kondisi jiwa malah telah berubah menjadi bilik-bilik jeruji sang pesakitan. Taman Kanak-Kanak dan pendidikan yang masih berhubungan dengan usia dini yang identik dengan dunia bermainpun telah dimatikan dengan berjibun tugas dan hafalan. Rasa kasih sayang dan ucapan motivasi telah berubah menjadi caci-maki. Nuansa kekeluargaan telah menjadi jurang hubungan dengan peserta didik sehingga terbentuk hubungan bagaikan ‘majikan-pembantu.’

Satu Kata: Merdeka!
Jika ditarik garis linearnya, maka semakin terbentang dengan jelaslah ketimpangan untuk mencapai tujuan pendidikan itu. Tidak salah kalau angka pengangguran intelektual semakin meningkat dan angka kejahatan dengan segala jenisnya yang diperankan kaum terpelajarpun semakin melesat. Salahkah kalau dikatakan semua bermula dari pendidikan yang hanya sekedar mengejar gelar dan untuk peningkatan status sosial?


Memandang ini, haruskah guru berpangku tangan? Atau malah asyik bermain di dalam lingkaran kenikmatan kesejahteraan yang telah didapatkan?  Jika demikian, guru akan berada pada posisi yang terawang-awang. Kadang dihormati, namun lebih banyak diceramahi. Penghormatan terhadap guru akan hanya sebatas kata. Dan akhirnya profesinya tetap menjadi kelas dua. Bukan utama.

Padahal guru adalah tulang punggung bagi tubuh pendidikan itu. Kekuatan para gurulah yang dapat menjadikan pendidikan negeri ini mampu berdiri dengan tegap. Berdiri di atas kaki sendiri. Bukan berjalan di atas beragam titipan yang justru bertujuan menambah keterpurukan bangsa. Pendidikan ini haruslah berjalan menuju cita-cita yang telah digariskan.

Dan cita-cita ini hanya menjadi mimpi belaka ketika para guru masih hidup dalam belenggu yang mematikan kreatifitas dan aktifitas diri serta proses pembelajarannya. Apalagi ketika tidak memahami hakikat terhadap profesi yang diembaninya.  Sebelum terlambat, mari bangkitkan diri. Lawan segala bentuk ketidakjelasan dalam sistem pendidikan. Karena guru mempunyai peran yang sangat besar, peran yang tidak hanya sekedar mengajar.

Sekarang, sudahkah kita merasa merdeka dalam memilih dan menjakankan profesi agung nan mulia ini? Atau hanya setakat mengejar tawaran kesejahteraan yang semakin menggiurkan?

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tulisan ini dibuat dan terpublikasikan di media Haluan Kepri, tanggal 27 November 2012.


Sekarang? Jelang peringatan Hardiknas 2018 lalu, Ketua Umum PGRI masih 'mendeklarasikan' bahwa guru kita masih belum berdaulat dan merdeka. 


Berikut petikan wawancaranya. 





Nah, ayooo Merdeka... Merdeka!


No comments:

Post a Comment