Monday, 25 March 2019

Mengapa Kita Harus #TolakUN (Lagi)?



Jika ada 1.000 orang yang berteriak untuk #TolakUN, akulah salah satunya

Jika ada 100 orang yang bersuara untuk #TolakUN, akulah salah satunya

Jika ada 10 orang yang masih komitmen untuk #Tolak UN, akulah salah satunya

Jika hanya ada 1 yang masih berani serukan #TolakUN, maka itu adalah aku

Dan jika tidak ada lagi suara  ayo #TolakUN, itu berarti aku Menteri Pendidikan


Jika masih ingat, #TolakUN (baca; hesteg tolak UN) atau #AyoTolakUN  hadir begitu gencar di jagad maya saat Ujian Nasional (UN) tahun 2014.  Kala itu jabatan Menteri Pendidikan Nasional dipegang oleh Bapak M. Nuh. Bukan hanya sebuah seruan yang tepat. Keinginan ini juga dilandasi karena akumulasi dampak negatif UN semakin akut.

Dari tahun ke tahun, pelaksanaan UN tidak pernah lepas dari hal teknis sampai kejadian yang fatal. Bukan hanya sekedar keterlambatan pendistribusian naskah ujian atau soal ujian yang kerap tertukar. Perilaku kecurangan sampai kematianpun selalu hadir bersamaan dengan pelaksanaan UN. Namun, tetap saja UN terus diadakan. Pun, tahun ini ujian sekolahpun dicitarasakan UN, yakni USBN.  

Akibatnya, tidak salah jika kemudian pada saat itu –dan tentunya sampai sekarang- telah berkesimpulan bahwa tujuan pendidikan dan standar nasional pendidikannya adalah UN. Benarkah?

Friday, 18 January 2019

Mengapa Skripsi Membuat Lelah Jiwa?

sumber gambar: eluniversity.co.za


Hanya tujuh huruf. Terkesan sebagai kata ilmiah. Memang ilmiah! Karena ianya sendiri merupakan salah satu bentuk karya ilmiah. Terlepas bagaimana sudut pandang ilmiah itu. 

Ah, terpaksa sebelumnya saya jelaskan tentang sudut pandang ini.

Saya, dan anda juga pasti menyaksikan dan mendengarkan. Tapi saya berharap hanya sebatas itu. Bukan pelaku. Sudah menjadi cerita, skripsi telah menjadi kategori barang dagangan.

Diperdagangkan. Ada penjual, ada pembeli. Ada tawar menawar harga. Ada juga yang memasang gaya ‘profesionalnya’ sehingga memakai harga pas. Tidak ada tawar menawar. Ada juga yang melakukan dengan gaya ‘profesionalnya’ sendiri. Jiplak data sana-sini. Data disesuaikan dengan keinginan. Utak-atik data akhirnya menjadi senjata.