Friday, 2 October 2015

Pilkada Lingga, Kite Jadi Ape?



Salah Satu Sisi Lingga, Masih Menghijaukah?
Jika dipanjangkan umur, sebentar lagi kita akan menyaksikan acara puncak perhelatan demokrasi daerah atau yang familiar disebut dengan Pilkada/Pemilukada di daerah yang dikenal dengan sebutan bunda tanah melayu ini. Hiruk pikuk sudah mulai terdengar, baik dari pembicaraan di rumah, pasar, sampai di kedai kopi yang hangat sehangat kopi yang dihirup. Tentu kita berharap ini bukanlah merupakan sebuah skenario dari elit politik semata. Tetapi mutlak harus merupakan kecerdasan analisa masyarakat Lingga yang merupakan penentu untuk berhasil atau tidaknya prosesi pemilihan nanti. Tapi mungkinkah itu?

Jawaban yang tepat pastilah tidak sekedar hanya dijawab dengan mungkin atau tidak. Secara global titik akhir percaturan dunia politik akan selalu dihadapkan dengan hasrat mendulang suara. Inilah salah  satu konsekuensi ketika demokrasi yang dianut. Artinya, seberapa penting dan hebatpun peran elit politik dengan segala jenis nama partainya tidak akan berarti jika akhirnya tidak mendapat simpati rakyat. Maka kemudian tak heran jika ajang tebar pesona dibalik kinerja menjadi seperti hal yang ‘wajib’ bagi kader partai politik. Apatah lagi bagi sang calonnya.

Nah jika kita mau berkaca dari gejala yang ada tersebut. Seharusnyalah kita sadar bahwa kitalah (masyarakat) sebagai penentu dari sukses atau tidaknya prosesi pemilihan itu. Bukan sang kandidiat atau partai politik. Meskipun  disadari sampai detik ini tidak dapat dihindari ternyata mereka  juga mempunyai peran yang besar dalam ‘merekayasa’ arah suara pemilih. Perlu diingat, ‘rekayasa’ ini tidak akan berarti jika kita tidak mau dibodohi, baik secara akal maupun nurani.


Ncek dan Puan, Kite yang Menentukan!


Menjelang Pilpres  lalu penulis pernah menuliskan artikel dengan judul ‘Reposisi Demokrasi: Memurnikan Suara Rakyat’. Diantara muatan isi artikel tersebut antara lain penulis nyatakan bahwa ‘Suara rakyat yang merupakan legalitas dalam proses demokrasi sudah berevolusi menjadi suara yang menyebabkan terjadinya kamuflase demokrasi. Suara rakyat telah digiring hanya menjadi pelengkap penderita dalam menentukan keabsahan demokrasi.‘ 

Atas kesadaran dari pernyatataan di atas itu jugalah mengapa artikel ini dibuat. Tidak akan mungkin selamanya kebohongan yang bermain dibalik suara rakyat itu akan terus terjadi. Perlu upaya bersama, perlu kesadaran bersama. Jika partai politik sepertinya sudah terbuai dengan kesibukan mencari simpati rakyat, maka sudah saatnya sekarang sang rakyat tidak terjebak dengan kesibukan dan aksi simpatik mereka itu.


Sekali lagi, sadarkah kita akan hal tersebut? 
Untuk itu mari yakinkan diri bahwa pilihan yang akan kita tentukan nanti bukanlah sekedar hasil pengaruh (sugesti). Jangan terpengaruh dari sumbangan yang didapatkan. Jangan terpengaruh dari kalimat manis baik yang digantung  disetiap sudut jalan maupun ketika acara kampanye dialogis. Bukan juga dikarenakan pengaruh hubungan darah, kekerabatan, bekas teman, atau ,mantan pacar? Bukan, bukan itu seharusnya alasan kita memilih! Jadi apa alasan itu? 

Paling tidak ada beberapa pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan. Pertama, kenalilah dengan baik siapa sebenarnya calon pemimpin yang ada. Kenalilah semuanya dengan baik pula. Jangan kemudian ketika sudah kenal calon yang satu, lantas menutup hati untuk calon yang lain. Dengan mengenal dengan baik setiap kandidat akan dapat menggambarkan perbandingan siapa diantaranya yang seharusnya berhak untuk dipilih. Ini yang kadang agak susahkan? 

Mempelajari setiap kandidat dengan seksama akan memberikan gambaran bagi kita. Setidaknya akan nampak siapa yang sebenarnya ingin dipilih dan memajukan Lingga. Siapa yang hanya sekedar ikut-ikutan belaka alias tebar pamor saja atau menaikkan nilai jual karena secara matematis sudah jelas tidak akan menang. Atau juga siapa diantaranya yang sekedar mengikuti pertarungan hanya kebetulan faktor finansial yang mendominasi, bukan dukungan suara dari masyarakat.

Kedua, ini berkaitan dengan icon Lingga sebagai tanah melayu.  Melayu yang dimaksud disini bukan bermakna sukuisme. Tapi hanya ingin mengatakan bahwa implementasi nilai-nilai melayu yang menjujung tinggi adab haruslah menjadi bagian terpenting untuk  diperhatikan oleh  pemimpin Lingga kedepan. Lajunya arus perubahan zaman menuntut untuk kita semakin lihai dalam menentukan mana yang seharunya menjadi panutan dan mana yang seharusnya dibuang. 
Lingga jangan terbuai dengan mengunggulkan situs sejarah melayu semata tanpa memperkuat insan melayunya. Melayu bukan hanya terletak dari simbol pakaian yang dipakai dihari tertentu saja. Perilaku yang mencerminkan sebagai orang yang beradab, itulah melayu. Adakah calon pemimpin Lingga yang berkomitmen dalam mempertahankan budaya melayunya yang seperti ini? 

Ketiga, Lingga sebagai Kabupaten termuda haruslah mempunyai skala prioritas pembangunan. Bukan malah ikut-ikutan, atau punya semangat besar tapi tidak sesuai dengan kondisi yang dimiliki. Jadilah akhirnya terbengkalai semua, yang orang kite cakap pembangunan yang ‘cumpes’. Di sini tentu kita tidak akan mendoktrin kemana arah kebijakan pembangunan Lingga. Yang kita inginkan hanya adanya integritas. Konsistenlah dalam menjalankan apa yang telah ditetapkan. 

Pembangunan Lingga harus memilih diantara software atau hardwarenya. Bahasa sederhananya, pilih ‘bedenyaunye’ kantor kerja atau kualitas minda orang yang bekerja di kantor tersebut? Kondisi seperti ini haruslah menjadi perhatian kita sebagai pemilih. Jangan hanya ‘terpane’ dengan pembangunan fisik semata.

Keempat, hal yang harus kita perhatikan selanjutnya berkaitan dengan politik ‘saudare mare’. Kondisi geografis ditambah dengan proses percepatan pertumbuhan masyarakat yang beredar tidak terlalu jauh akan memungkinkan semuanya menjadi saudara. Betul tak? Apalagi jika yang sudah menjadi pejabat, ‘sunnahnya’ pasti akan mendapatkan klaim saudara dari berbagai pelosok. Itu pasti! Akibatnya? Idealisme akan digadaikan dengan sebuah ‘Politik saudare mare’ atau balas budi tadi.

‘Tak sedap kate makcik pulak kalau anak die tu tak dibantu’. Atau ‘ai masak bantu anak saudarepun tak bise, ngelancot!’ Begitulah sepertinya suara hati yang akan terjadi baik kepada yang meminta atau yang dipinta. Alhasil profesionalitas akan dibuang jauh. Apalagi ketika pandangan politiknya terlihat menyimpang dari sang pemimpin. Siap-siaplah untuk tak terpakaikan. Sekarang tinggal lihat, mana calon yang lebih mementingkan keahlian, saudare, dan mana yang tidak?


Ape jadi Kite?

Itulah sedikit gambaran strategi memilih Calon Bupati/Wakil Bupati atau calon apapun itu yang berniat akan membangun tanah kelahiran kita. Diketahui pasangan calon sudah mendeklarasikan dirinya dengan berbagai macam cara. Merekapun telah mendapatkan nomor urutnya masing-masing. Pesonapun telah ditebar. Sekali lagi, waktu masih ada untuk mempelajari mereka satu persatu dengan sejenak menghindari berbagai macam rayuan dan bisikan.

Rumusnya untuk menghasilkan pemimpin yang baik pastilah dimulai dengan memilihnya berdasarkan alasan yang baik pula. Bukan hanya karena dapat beras gratis, bukan juga hanya itu ‘pak cik saye’. Memilihlah demi kemajuan masyarakat Lingga secara umum bukan hanya kesuksesan segelintir orang.


Andai perlu dikhutbahkan, mungkin tulisan ini tidak akan pernah habis tatkala risaunya penulis melihat kondisi yang ada. Begini sajalah, kalaupun sekarang misalnya diantara calon itu tidak ada yang sangat baik (perfect). Sesuai dengan kaedah normal, pilihlah yang sedikit mudhoratnya (buruknya). Sekali lagi, yakinlah bahwa kita sebagai masyarakatlah yang akan menentukan semuanya. Semua berpulang kepada kita. Andai masih ada alasan yang tak beres mendominasi suara hati. Penulis tak bise banyak cakaplah  karena dapat dipastikan ‘orang kite naekkan, kite tatap langsai, daerah kite maken tebengkalai. Nak ke?’

No comments:

Post a Comment